Bab 1: Pertarungan Hidup Mati Klan

Rilis: July 10, 2026 Oleh: Beatriz Team

Dinasti Daqian, wilayah kekuasaannya membentang miliaran mil.

Wilayah Utara, Gunung Heitan, hari kesembilan bulan ketujuh.

Salah satu dari Sepuluh Klan Besar Gunung Heitan yang telah menguasai Ratusan Punggung Gunung di sekitarnya selama ribuan tahun, 'Klan Jiang', kini telah mencapai saat-saat penentuan hidup dan mati. Di arena seni bela diri yang terbuat dari tanah di dalam kota klan, Jiang Xuan yang berusia lima belas tahun melindungi adik perempuannya yang berusia empat belas tahun, berdiri di dalam kerumunan seraya menatap ke atas arena.

"Apakah Klan Jiang masih punya pria yang berani bertarung mati-matian dengan Laozi ?"

"Hari ini adalah hari kehancuran Klan Jiang kalian! Hahahahaha!"

Di atas arena, petarung Xiantian dari Klan Shentu, 'Shentu Yong', mengibaskan goloknya yang berlumuran darah sambil menyeringai bengis dan berteriak provokatif, dan di dekat kakinya, bertambah lagi satu mayat petarung Xiantian dari Klan Jiang. Menurut Hukum Dinasti Daqian, ketika konflik antar klan mencapai puncaknya, mereka tidak diperbolehkan memusnahkan klan lawan secara sepihak, melainkan harus membuat kontrak tertulis, dan bertarung hidup-mati di atas arena di bawah pengawasan Utusan Pengawas Kota Utama.

Mereka yang diizinkan untuk turun bertarung hanyalah pria dewasa dari klan tersebut.

"Tetua Kedua gugur dalam pertempuran." "Sudah tiga tahun, bahkan Tetua Kedua pun kalah."

Para wanita yang menonton di sekitar arena seni bela diri diselimuti isak tangis dan duka mendalam.

Pertarungan Hidup Mati Klan adalah pertempuran pamungkas yang menentukan nasib sebuah klan, pihak yang kalah akan kehilangan segalanya, seluruh harta benda menjadi milik lawan, semua anak akan diganti marganya menjadi marga klan lawan, sedangkan para wanita semuanya akan diturunkan statusnya menjadi 'Status Hina', menjadi budak pelampiasan nafsu yang bisa dilecehkan dan diperjualbelikan sesuka hati.

"Kak, Kakak lihat, Kak Qinghong memegang pisau, apa yang ingin dia lakukan?" Adik perempuannya, Jiang Yao, bersembunyi dengan takut-takut di belakang Jiang Xuan, ia hanya menjulurkan kepalanya dan bertanya dengan suara pelan dan gugup.

Di kerumunan sebelah kiri, seorang gadis berbaju merah yang jangkung, luar biasa cantik, dan berkulit seputih salju, tengah memegang belati secara terbalik dengan tangan kanannya yang disembunyikan di belakang punggung, menatap tajam ke arah arena dengan ekspresi sedingin es.

Jiang Qinghong empat tahun lebih tua dari Jiang Xuan.

Ia adalah gadis yang diam-diam disukai Jiang Xuan selama bertahun-tahun.

"Dia sedang bersiap untuk bunuh diri," jawab Jiang Xuan dengan suara yang dalam, kelopak matanya berkedut saat tangannya yang menggantung terkepal erat tanpa sadar.

Bukan hanya Jiang Qinghong yang bersiap untuk bunuh diri. Di antara ratusan wanita yang hadir, tidak sedikit dari mereka yang sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri hidup.

Semakin cantik paras mereka, semakin bulat tekad tersebut.

Karena mereka akan segera kalah!

Pertarungan Hidup Mati Klan antara Klan Jiang dan Klan Shentu telah berlangsung selama tiga tahun penuh. Menurut peraturan, pertempuran ini hanya diadakan selama tiga hari setiap bulannya, yaitu dari hari ketujuh hingga hari kesembilan setiap bulan, dengan sepuluh pertandingan setiap harinya. Utusan Pengawas dari Kota Utama akan mendatangi wilayah klan selama tiga hari tersebut untuk bertindak sebagai wasit.

Tiga tahun pertempuran hidup mati, ratusan pejuang dari garis keturunan utama Klan Jiang telah mati terbunuh.

Klan Jiang yang sekarang, pria dari garis keturunan utama hampir mati sepenuhnya.

Anggota Klan Jiang dari keturunan utama yang datang ke arena seni bela diri hari ini untuk menonton pertarungan ada hampir tujuh ratus orang, dan lebih dari Krisis enam ratus di antaranya adalah wanita. Mulai dari wanita tua berusia tujuh puluhan hingga gadis kecil berusia beberapa tahun, dengan mayoritas adalah wanita berparas cantik yang berumur dua puluhan hingga tiga puluhan. Pria bukannya tidak ada, tetapi pada dasarnya mereka semua hanyalah anak kecil atau remaja belasan tahun.

"Apakah Klan Jiang kalian benar-benar sudah kehabisan pria?", "Hahahahaha! Kalian orang Klan Jiang memang tidak punya nyali ! Kudengar banyak pria kalian yang kabur dalam beberapa tahun terakhir, sama sekali tidak berani terus bertarung melawan Klan Shentu kami!"

"Aku bertanya sekali lagi! Pertarungan terakhir hari ini, siapa yang berani maju melawanku?"

Shentu Yong menginjak mayat Tetua Kedua, dan menyeringai menyeramkan.

Beberapa gadis ketakutan hingga menangis akibat tingkah liar dan biadab Shentu Yong, namun mereka buru-buru menutup mulut, tak berani mengeluarkan isakan.

Klan mana pun, begitu kalah dalam Pertarungan Hidup Mati Klan, akan menghadapi nasib yang sangat tragis.

Terutama para wanita di dalam klan.

Begitu Pertarungan Hidup Mati Klan menentukan pemenang akhirnya, klan yang menang akan menggelar 'Karnaval Tiga Hari'. Selama tiga hari ini, semua wanita dari klan yang kalah akan mengalami pelecehan keji. Setelah itu, sebagian besar yang selamat akan dijadikan pelacur klan bagi pemenang. Hanya sebagian kecil mereka yang 'beruntung' yang mungkin akan diambil sebagai selir eksklusif  oleh petarung kuat dari pihak pemenang, atau mungkin dibeli oleh para bangsawan dari Kota Feixue dan dibawa pergi ke sana.

"Kamu pasti Jiang Qinghong, kan?" Shentu Yong mengedarkan pandangannya ke sekeliling arena, sebelum tiba-tiba terpaku pada wajah Jiang Qinghong. Ia menjilat sudut bibirnya, "Pantas saja kamu disebut sebagai kecantikan nomor satu di Klan Jiang, pesonamu begitu cantik hingga bisa dikenali dalam sekali pandang. Kudengar Tuan Muda dari Klan Huyan bersedia memberikan lima puncak gunung serta lima suku sebagai mahar untuk mempersuntingmu, tetapi kamu tidak menyetujuinya sedikit pun, malah berkoar-koar lebih memilih mati bersama Klan Jiang."

"Wanita cantik sepertimu, sayang sekali kalau harus mati. Nanti biarkan Paman ini menyayangimu baik-baik, hahahaha!" Shentu Yong tertawa terbahak-bahak dengan nada melecehkan.

"Hahahahaha!"

"Benar, mari kita semua menyayanginya baik-baik!"

Di sisi selatan arena, puluhan pejuang Klan Shentu ikut terbahak-bahak membeo tawanya.

"Jangan harap!" Mata indah Jiang Qinghong melotot seraya menggertakkan gigi, sikapnya yang sedingin es memancarkan determinasi pantang mundur, walau tangan yang menggenggam pisau di balik punggungnya gemetar tak terkendali.

"Kak, bukankah Kakak menyukai Kak Qinghong?" Jiang Yao yang berada di belakang Jiang Xuan kembali berbisik pelan, "Kakak sampaikan ke Ibu, bawa Kak Qinghong pergi bersama kita, ya?"

Klan Jiang terkenal banyak menghasilkan pria tampan dan wanita berparas rupawan, dan Jiang Qinghong adalah yang tercantik dari yang paling cantik, di mana ketenarannya meluas hingga ke luar. Jiang Xuan tak lebih dari sekadar salah satu remaja klan yang menaruh hati pada Jiang Qinghong secara diam-diam. Dan ia sangat mengerti bahwa 'Kak Qinghong' adalah saksi matanya bertumbuh besar, sosok yang selalu menganggap dirinya sebagai adik kecil; di mata gadis itu, ia hanyalah seorang anak laki-laki.

"Ibu tidak akan setuju," ucap Jiang Xuan lirih.

"Tapi..." Mata Jiang Yao mulai memerah.

"Ayah sudah tidak ada." Jiang Xuan lanjut berbisik, "Ibu sudah mempertaruhkan nyawa-Nya demi melindungi kita, Beliau tidak akan mau menanggung risiko tambahan."

Ayahanda Jiang Xuan, Wakil Ketua Klan Jiang Hanfeng, adalah pakar bela diri terkuat di seluruh Klan Jiang, sekaligus satu-satunya eksistensi puncak dalam klan yang berhasil menyelami ranah 'Kekuatan Kesatuan Langit dan Manusia'.

Lebih dari tiga tahun lalu, Jiang Hanfeng dinyatakan hilang saat menjelajahi Tanah Kematian Sepuluh Penjuru di jantung Gunung Heitan.

Pada bulan ketiga sejak hilangnya Jiang Hanfeng, Klan Shentu menyimpulkan bahwa pria itu telah wafat, lantas memantik perselisihan dan mendeklarasikan Pertarungan Hidup Mati Klan. Klan Shentu jauh lebih superior dibanding Klan Jiang, sehingga semua orang paham bahwa keoknya Klan Jiang hanya tinggal menunggu waktu. Di sepanjang tiga tahun itu banyak orang yang melarikan diri dari teritori Klan Jiang, namun pelarian itu hanya bisa dieksekusi oleh mereka yang lihai; monster-monster siluman berkeliaran di dunia luar, jika melangkah keluar tanpa bekal kecakapan yang mumpuni, itu tak ubahnya mengantar nyawa percuma.

Ibunda Jiang Xuan, 'Wei Baijun', dengan sabar selalu menunggu kepulangan suaminya.

Kini, ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk membawa putra dan putrinya melarikan diri.

Meski hal itu kelak membuat mereka dikejar-kejar sebagai buronan oleh Dinasti akibat melanggar pernjanjian Pertarungan Hidup Mati Klan, tetapi setidaknya itu lebih mulia ketimbang harus rela sekeluarga jatuh menjadi budak belian.

"Di mana Tetua Kelima? Ke mana perginya Tetua Kelima?"

"Tetua Kelima baru saja membuat terobosan kekuatan setengah bulan yang lalu. Shentu Yong telah melakoni sembilan pertempuran berturut-turut hari ini. Kemenangannya baru saja adalah kemenangan yang harus dibayar mahal, dia sudah muntah darah saat bertukar jurus dengan Tetua Kedua. Walau sekarang pura-pura sehat, sesungguhnya menderita luka dalam yang amat parah, dia sudah pasti bukan tandingan Tetua Kelima. Asal Tetua Kelima turun tangan, pertempuran bulan ini bisa kita atasi, jika kita bisa mengulur waktu sampai bulan depan, mungkin Paman Hanfeng akan kembali, andai saja ia masih hidup..."

"Tetua Kelima, pasti bisa menang!"

Di tengah penantian penuh harap para wanita Klan Jiang, Tetua Kelima Jiang Jingsheng—yang sudah berumur separuh baya tetapi masih memiliki surai hitam legam dan perawakan sangat kekar—akhirnya menampakkan diri walau agak terlambat.

Di waktu yang bersamaan, sesosok figur misterius berjubah tertutup tudung menyibak kerumunan, berjalan menghampiri kakak-beradik Jiang Xuan dan Jiang Yao. "Ibu." Jiang Xuan dan Jiang Yao menyapa secara serempak.

Wei Baijun menanggalkan tudung kepalanya, memperlihatkan raut wajah yang anggun lagi elok; ia memancarkan sejenis aura aristokrat yang terlihat berbeda jauh ketimbang wanita pinggiran klan. Kulitnya bening layaknya gadis belia, biarpun usianya sudah nyaris merambat kepala empat, sang waktu seolah enggan menorehkan jejaknya pada wajah itu, seakan-akan ia masih perempuan berumur dua puluhan.

Keluarga Wei adalah salah satu dari Empat Keluarga Bangsawan Besar di Kota Utama Feixue.

Wei Baijun sejatinya merupakan seorang Nona Besar di Keluarga Wei. Turunnya derajat sosialnya di masa lampau kala bersedia dipinang dan dijodohkan dengan Jiang Hanfeng di klan kecil ini, menjadi skandal yang sempat menghebohkan. Gara-gara itu pulalah, nama Wei Baijun dicoret dari silsilah trah Keluarga Wei.

"Ibu, apa kita boleh mengajak Kak Qinghong pergi bersama?" rayu Jiang Yao sambil menggamit ujung busana sang Ibu.

Wei Baijun menaruh tatap pada putrinya, tangannya membelai lembut pucuk kepala sang anak, membisu tanpa kata.

"Ibu kan seorang master Xiantian, apakah benar-benar mustahil?" Melihat gestur Ibunya, sorot mata Jiang Yao mendadak berkaca-kaca.

"Ibu sanggup saja kalau cuma menenteng Qinghong pergi, tapi haruskah Ibu menyeret Kak Youwei-mu juga sekalian?" Wei Baijun berucap pelan seraya memindai area sekitar, "Laru ada Kak Fenglan, Kak Panxue, Kak Qianhe, Kak Qiaolian... Lalu mereka juga, Ruoxiang, Zhiyun, Nianqing, Yinglian... Manusia di sini jumlahnya bejibun, lantas siapa yang patut disingkirkan, dan siapa yang berhak diselamatkan?"

Wei Baijun menuturkan rentetan kalimat itu sembari matanya menerawang kepada deretan perawakan-perawakan molek di kerumunan sana.

Semburat rasa lara dan sedih terpancar berkelebat dari rona matanya.

Gadis-gadis jelita dari klan ini, tumbuh membesar tepat di bawah pengawasannya. Kala dirinya tiba di tempat ini sebagai istri baru, para bocah perempuan ini masih balita, namun detik ini mereka telah menjelma figur perawan seutuhnya. Wei Baijun tahu persis betapa pedih dan kejam takdir yang sedang menyeringai menanti keperawanan mereka.

Namun, pada akhirnya, darah daging sendirilah perihal nomor satu yang paling penting.

Meskipun predikatnya adalah petarung Xiantian, membawa serta satu putra dan satu putri meloloskan diri sembari menerobos rantai blokade Klan Shentu sudah merupakan batas maksimalnya, kemungkinannya mutlak nihil untuk bisa membawa kargo jiwa ekstra sekecil apa pun.

Beriringan dengan narasi yang keluar dari belahan bibir sang Ibu, kornea Jiang Xuan refleks ikut memindai panorama di hadapannya.

Seakan terdapat sesuatu yang memberontak meloncat di sepasang netranya.

Kakak-kakak perempuan ini, hari-hari biasa mereka teramat menyayangi dan bersikap baik padanya.

Bakpao buatan tangan Kak Panxue rasanya kelewat enak. Watak Kak Qianhe yang beringas dan ekstrover, hobi melontarkan banyolan jorok dewasa. Jari-jemari Kak Ruoxiang dan Kak Zhiyun amat cekatan; karena Ibu merupakan bangsawan dari kota besar, talenta kultivasi sang Ibu memang di taraf tertinggi, sayang seribu sayang ibu gagal mahir dalam hal kerajinan dan jahit-menjahit. Setel pakaian yang merengkuh badannya dan baju yang membungkus kulit sang adik selama bertahun-tahun belakangan, semuanya murni hasil sulaman tangan mereka.

Kak Yinglian merupakan penanggung jawab perkebunan herba medis di dalam klan. Saban kali raga pria ini remuk didera latihan bela diri, Kak Yinglian-lah pahlawan yang siaga memoleskan balsam lukanya. Wanita itu merelakan dirinya komplotan penyimpan rahasia perihal hancurnya tubuh pemuda itu dari incaran Ibu.

Jiang Xuan mengeja figur mereka dari ujung ke ujung.

Sosok kakak-kakak perempuan, adik-adik, juga bibi dari kaum klan.

Tiap ukiran siluetnya sanggup menggali sebongkah kenangan sentimental yang bernaung rapi di otaknya.

Mengenai urusan lari terbirit-birit layaknya anjing pecundang, sebetulnya isi batok kepala Jiang Xuan senantiasa menyimpan premisnya sendiri.

Ia emoh melakoni drama petak umpet demi menyensor kekuatan aslinya lagi.

Biarpun keputusannya harus dibayar dengan melanggar pakta sakral antara dirinya dengan sang Senior Batu Ajaib.

"Ibu." Sekonyong-konyong mulut Jiang Xuan terbuka. "Ibu bilang, seumpama Ayah masih menghirup udara di semesta ini, apakah Ayah bakal memintaku untuk pontang-panting merayap layaknya bajingan pengecut, atau bangkit menantang laksana pria tangguh sejati..."

"Kamu bukan bocah pengecut!" Kepala Wei Baijun memutar balik membabat tuntas ujaran anaknya, "Tahun lahirmu membuktikan kau sekadar anak kecil, titik! Persoalan pelik begini terlampau di luar lingkup tanggung jawabmu!"

Beliau tidak rela buah hatinya beraksi terburu nafsu menyongsong malaikat maut. Bakat yang dibawa anaknya tergolong kualitas medioker yang semenjana belaka. Pada saat ini saja masih nyangkut di 'Alam Pembuka Meridian', kampiun Xiantian terlemah mana pun niscaya enteng memotong nyawanya.

Di kala detik yang berimpitan itu juga.

Tetua Kelima Jiang Jingsheng yang kakinya telah mendarat di panggung arena, baru saja mencabut untai cincin giok hitam bergaya purba dari bangkai lengan kanan milik Tetua Kedua. Cincin legendaris yang merantai Klan Jiang selama ribuan purnama berturut-turut merupakan pusaka penanda lencana takhta Kepala Klan; semenjak Ketua Klan purba tewas di padang kurusetra dua tahun silam, tampuk kekuasaannya jatuh dan diampu di bawah otoritas penjabat darurat, Tetua Kedua. Hari ini, cincin mustika tersebut lazimnya diwariskan dengan segenap kewajaran kepada poros pertahanan pria yang tertinggal mutlak sebatang kara di Klan Jiang: Sang Tetua Kelima, Jiang Jingsheng.

Tetua Kelima menyusupkan pelengkap jari itu dengan khusyuk, mendaratkan pilar-pilar pandangan dingin sedingin es batu ke penjuru wajah Shentu Yong.

"Tetua Kelima, jagal keparat itu!"

"Tetua Kelima! Hutang nyawa wajib bayar nyawa untuk Tetua Kedua!"

Tenggorokan kaum perempuan dipaksa meraung-raung mengemis empati kemenangan untuk sosok Tetua Kelima Jiang Jingsheng. Gen militan pun ikut mendarah daging dalam korpus wanita-wanita ini, sejumlah besar dari mereka hakikatnya juga kombatan tempur yang gagah berani; ironisnya, palu vonis undang-undang Dinasti Daqian-lah yang melumpuhkan hak dasar dan kelayakan srikandi ini untuk turun gunung meramaikan panggung jagal maut.

Ketetapan absolut mengenai turnamen maut pertumpahan darah ini digurat mutlak dengan pena darah kepunyaan 'Kaisar Qian' sendiri; preseden kunonya menginvasi lapisan kerak bumi ini hingga usia senja sepuluh milenium lamanya. Titel Kaisar Qian—penguasa imperium dengan teritori raksasa tak bertepi, yang diakui sebagai dinosaurus kehidupan purba dan menginvasi takhta sakti yang mampu mengangkangi supremasi dewa maupun setan sekelas apa pun; mutlak tiada satu spesimen bernapas mana pun yang mampu menganulir fatwa regulasinya.

"Jiang Jingsheng, otak jongkokmu benar-benar mengasumsikan kalau genmu masuk spesies jantan?" Shentu Yong memuntahkan seringai mencemooh pada Jiang Jingsheng. Walaupun kasta kekuatannya tertera kerdil di bawah spektrum kompetensi Jiang Jingsheng, tembakan lensa cibirannya mendemonstrasikan penghinaan kelas kakap.

"Ya, ya, ya, hamba bukan pria sejati."

Mendadak skenario membagongkan merobek stabilitas semua hadirin. Sikap kaku ala dewa pelindung yang bersarang di kerutan paras Jiang Jingsheng langsung dilikuidasi diganti mimik budak penyuap, "Tuan Yong maha perkasa! Argumen Anda lurus tak terbantahkan! Jika dihadap-hadapkan dengan kemegahan Anda, eksistensi jantan si Jiang Jingsheng ini bak setitik debu belaka! Hamba menitipkan kedaulatan warga klan Klan Jiang seutuhnya, untuk mengikrarkan sumpah tunduk dan bersujud tapak di bawah panji Klan Shentu kalian!"

Sembari menumpahkan retorikanya, pinggang Jiang Jingsheng mengunci putaran, lantas melemparkan sudut wajahnya ke tribun penonton di kutub Utara.

Balkon VVIP tersebut dibangun dengan arsitektur ekso-estetis gila-gilaan, dan melulu dimonopoli oleh sebuah kursi singgasana single; di sinilah seorang jenderal bersisik zirah hitam paruh baya usia kepala empat rebah mengangkang, rahangnya kaku membatu diiringi mimik pandang nan acuh tak acuh mencerna fenomena komedi sirkus arena.

"Wahai Tuan Utusan Pengawas, khusus pada laga brutal episode kesepuluh hari ini, saya menolak angkat senjata! Saya mundur mengangkat bendera putih!" sembah Jiang Jingsheng amat santun.

Utusan Pengawas adalah birokrat super elitis utusan kekaisaran untuk meregulasi keseimbangan ormas dan marga suku pedalaman. Kuota jabatannya murni hanya bisa dicecap oleh elit raksasa dengan basis kultivasi supernatural melebih alam Xiantian; setara dengan ledakan bom nuklir hidup di mana kedahsyatan kekuatan tunggal manusianya saja mudah menghapus jejak eksistensi sekumpulan suku dalam sekali helaan napas remeh.

"Hn."

Utusan Pengawas Lei Hong memantulkan resonansi gumaman dengus parau tak acuh melalui sekat tenggorokannya.

Output skandal picisan semacam ini urung menjentikkan urat syaraf keterkejutannya walau sesenti. Peluang Klan Jiang buat meraup trofi murni ilusi kosong tiada bobot sepeser pun. Berkapasitas ganda selaku algojo yudisial penilai perseteruan darah di sekian banyak klan, sirkuit nalar Lei Hong terlalu sering dikenyangkan atraksi sinetron penusukan dari belakang semacam ini, fenomena begini ibarat angin lalu yang klise belaka baginya.

Cakrawala di area sparring serentak dipadamkan oleh gema lengang senyap mati absolut; ibarat menjatuhkan sehelai benang jarum pun pasti terdengar bergaung.

Seisi jamaah klan marga Jiang menghujani Jiang Jingsheng lewat sorotan delusi matanya yang syok tidak percaya.

Keparat itu melenggang enteng merelakan bendera takluknya!

Manusia laknat ini—telah digadaikan karena recehan suap!

"Bwahahahaha! Coba ulangi frasaku apa tempo hari! Benih pecundang yang mendarah daging di trah Jiang kalian! Hahahahaha!" Menyadari si cecunguk Jiang Jingsheng sudi tunduk patuh pada parameter intrik gelap mereka, benjolan ketegangan batin Shentu Yong merosot terurai tuntas; pria ini memuntahkan berondongan tawa beringas bertubi-tubi.

"Gawat!" Dari sudut kumpulan lalat kerumunan, distorsi radikal mengacak-acak komposisi pigmen rona Wei Baijun.

Laku durhaka si pecundang Jiang Jingsheng yang instan membanting setir tunduk ini menyisakan lubang lowong petarung di ring final kiamat yang kesepuluh! Artinya vonis hukum mati berupa label pecundang untuk Klan Jiang akan otomatis diketok palu! Pada epos hari inilah eksistensi mereka di-aneksasi massal masuk usus klan Shentu! Sejumlah besar famili dibantai jadi budak romusha melata!

Kejadian di luar logika ini merusak brutal cetak biru pelarian Wei Baijun yang mau mengekstraksi putra-putrinya angkat kaki menjauh!

Kalkulasi aslinya ia optimis mendelay bom waktu hingga selisih masa jeda sebulan ke depan.

Draft purwarupa taktik ibu ini condong mencuri start lengah usai paruh bulan tiba demi mengemas kabur anak-anak biologisnya keluar ring teritori.

Masa-masa durian runtuh pelarian itu hangus total tiada sisa sekarang.

"Minggat, detak kompas per detik ini juga cabut! Ngebut!" bisikan Wei Baijun ditekan ke intonasi parau pada sepasang putranya yang tergopoh-gopoh.

"Heh, Wei Baijun! Merasa dirimu ada kaki buat buron, ya?"

Jiang Jingsheng menghentak laju putaran torso memunggungi panggung, tombak sorotannya tembus merobek tirai figur Wei Baijun yang menyempil di keramaian; "Kelakuan picikmu memang semenjak tadi kubidik di radar!" Dedikasi makarnya dilabeli skor seratus alias tuntas. Merangkai retorikanya, Jiang ini melempar bola matanya lagi kepada Shentu Yong lantas mencetak cengir jongos komikal, "Wahai Tuan Yong maha perkasa! Perempuan laknat di sana ialah rahim permaisuri tempat menabur sperma milik sang Jiang Hanfeng, DNA darahnya diekstrak dari konglomerat wangsa Keluarga Wei kota pinggiran, cuma jangan salah kaprah, hak prerogatifnya di trah itu dibredel putus mampus. Tuan Pahlawan silakan sepuas gairah merenggut mahkota kenikmatannya!"

"Pewaris gadis perawan darah biru dinasti trah kota besar?" Insting serakah di retina Shentu Yong terstimulasi buas me-rontgen aset anatomi figur Wei Baijun seraya ngeces liur dekil. Menyeringai asimetris lantas nyerocos: "Konon rumor berdesir kalau rahimmu dijejali level kultivasi Xiantian, memamah biak daging empuk kasta bangsawan keraton itu ibarat hidangan mewah yang belum sukses dijamah telapak tanganku, lagipula stok langka perihal siluman wanita master Xiantian mana sering didapat! Hahahahahaha!"

Oksigen minggat total dari struktur epidermis Wei Baijun yang menggigil merapatkan deret seri geraham ngilu seraya melontar meriam emosi kemurkaan di retina beningnya.

"Eh tunggu? Rombongan onggokan daging minor di sisimu ini spesifikasi bibit genetika anakmu kan, identik mirip cetakan aslinya!" Kompas mata binal si Shentu meraba kembali mangsanya lebih intens berbinar nyalang, "Apalagi produk genetik anak gadismu yang ini, plek ketiplek laksana mesin fotokopi DNA dirimu ibunya; sedari benih baru tumbuh jelas asetnya diincar jadi wanita penghibur tingkat atas, Ck-Ck-Ck, lidah kotor Laozi telanjur kemarau garing terlalu menahan haus menjamah menu lezat berdarah segar genetik unggul macan begini..."

"Cuih, bedebah bajingan sialan!"

Dentuman hardik brutal merontokkan laju pita suara menjijikkan kotor punya si Shentu Yong tersebut.

Sesonsok kilat tubuh membobol dinding barikade manusia layaknya buldozer mengamuk, satu langkah kakinya merekam jarak loncatan belasan meter vertikal mencium lantai arena ring. Fluktuasi auranya meletus menakutkan, keganasannya meluap overdosis tiada tara. Dinamika anomali seketika memaksa radar motorik Shentu Yong dan si curut Jiang Jingsheng terlempar surut mundur. Walau begitu, tatkala kejernihan optik sanggup menerjemahkan siluet bocah kurang ajar yang nyasar itu, tawa mengejek pun serentak dihembuskan.

Ternyata, entitas beringas barusan tidak lain tidak bukan cumalah seorang cecunguk labil usia nanggung yang menenggak overdosis kemarahan banal belaka usai mengamati pelecehan verbal keji pada Ibunda serta sang Adik, di mana temperamen tantrumnya tidak dipersenjatai modal kapabilitas apa pun.

"Ternyata dia itu keturunan sampah dari Jiang Hanfeng yang nirguna itu."

[ SLOT IKLAN TENGAH - PASTE KODE SCRIPT DI SINI ]

Dukung Penulis / Translator ☕

Jika kamu menikmati cerita ini, dukung kami dengan traktir kopi agar makin semangat update bab baru!

Traktir Kopi Sekarang
Memuat Navigasi...